KEMARAU BASAH BERDAMPAK PRODUKSI KEDELAI PADA BOYOLALI

KEMARAU BASAH BERDAMPAK PRODUKSI KEDELAI PADA BOYOLALI
Posted in Informasi
Posted on: June 2nd, 2017 Oleh Administrator
BOYOLALI : Di tengah surplus sejumlah komoditas pertanian terutama beras, Boyolali justru masih minus kedelai. Produksi kedelai Boyolali baru sekitar 137 ton saja, padahal kebutuhan kedelai tahun ini mencapai 4.761 ton. Kondisi cuaca kemarau basah menjadi salah satu faktor minimnya produksi kedelai Boyolali.
Data Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Boyolali per Maret tahun 2017 ini. Menurut Kepala DKP Boyolali, Bambang Purwadi, selain kedelai Boyolali juga masih minus produksi ubi jalar dan kacang hijau. Hanya saja terkait produksi kedelai, data per awal tahun ini jumlah produksinya masih jauh dari kebutuhan.
“Data ini kan tiap beberapa bulan diperbarui. Memang untuk per Maret kemarin produksi kedelai Boyolali minus, karena baru 137 ton. Sementara kebutuhannya mencapai 4.761 ton per tahun,” ungkap Bambang.
Berkaitan dengan teknis produksi, Bambang mengatakan berada di bawah Dinas Pertanian. Sementara pihaknya bertugas merekomendasikan terkait ketahanan pangan. Meski demikian, pihaknya juga mendorong peningkatan produksi kedelai di Boyolali.
Minimnya produksi kedelai di Boyolali, salah satunya dipengaruhi cuaca kemarau basah sejak setahun kemarin yang berlanjut hingga sekarang. Semestinya saat ini memasuki musim kemarau, namun hujan justru terus terjadi. Kondisi cuaca ini membuat petani kedelai kecele, dan was-was gagal panen. Pasalnya, tanaman kedelai jika terlalu banyak air justru tidak berisi.
“Tiap hari hujan sawahnya jadi tergenang, sepertinya tahun ini kedelai tidak bisa diharapkan bisa panen,” tutur Ismanto (53), petani di Kecamatan Sambi.
Sementara itu berdasarkan pantauan harga di sejumlah pasar tradisional di Boyolali, harga kedelai saat ini menyentuh angka 10.000/kg, di antaranya di wilayah Kecamatan Teras dan Nogosari. Sedangkan di sejumlah pasar tradisional lainnya, harga kedelai berkisar Rp 9.000/kg. Harga kedelai mengalami tren kenaikan selama sebulan terakhir, dan berdampak pada produksi tahu dan tempe. ()

Kategori

Informasi Terbaru

Video Terbaru


Back to Top