HARGA AYAM TERUS TERPURUK, PETERNAK DESAK SOLUSI PEMERINTAH

HARGA AYAM TERUS TERPURUK, PETERNAK DESAK SOLUSI PEMERINTAH
Posted in Headline
Posted on: October 3rd, 2017 Oleh Administrator
BOYOLALI : Terus terpuruknya harga komoditas produk ternak ayam, baik broiler, jantan, maupun petelur dalam kurun waktu yang cukup lama hingga saat ini, membuat petani peternak meminta supaya pemerintah tegas mencarikan solusi.
Semetara itu, menyikapi kondisi yang dihadapi petani peternak, pemerintah melalui Kementerian Pertanian, dalam hal ini Dirjen
Peternakan, I Ketut Diarmita, mempertemukan langsung peternak dan perusahaan integrator di  Gedung Serbaguna Cemara, Desa Randusari,Kecamatan Teras, Selas (3/9/2017).
Sugeng Wahyudi, Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nusantara mengatakan, sampai saat ini harga ayam hidup maupun telur, masih di bawah harga pokok produksi HPP. Harga ayam broiler misalnya, HPP-nya Rp 17.500/kg, namun harga di peternak hanya Rp 14.000/kg. Begitu pula dengan HPP ternak ayam jantyan mencapai Rp 22.000/kg, namun harga jual di tingkat peternak masih jauh di bawahnya. Tentu saja kondisi ini membuat kondisi peternak terus merugi, setidaknya untuk harga refrensi ayam broiler misalnya semestinya Rp 18.000/kg.
Menurut Sugeng, sudah banyak regulasi dari pemerintah namun kondisi yang dialami peternak semakin hari semakin turun dan untuk bertahan hidup pun menjadi susah. Di sisi lain, yang ada saat ini justru perusahaan-perusahaan besar (integrator) yang menangguk keuntungan. Kondisi ini setidaknya tercermin dari penguasaan pasar yang saat ini anjlok di kisaran 20 persen, bahkan untuk broiler hanya sekitar 10 persen saja. Padahal menurut Sugeng, peternak tradisional semestinya juga merasakan distribusi pemerataan keuntungan sebagai hasil pembangunan.
“Harapan kami agar pemerintah bisa memberikan solusi supaya peternak ayam kembali bergairah dan bisa tumbuh bersama-sama dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya,” ungkap Sugeng. Lontaran keras juga bermunculan dari peternak-peternak dari berbagai
daerah, di antaranya seperti yang disampaikan Supriyatno dari Bogor, yang menuding akar persoalan ini salah satunya karena tidak adanya batasan produksi. Dikatakannya, banyak regulasi dibuat untuk peternakan ayam dan telur, yang termasuk bahan pokok penting dan ketahanan pangan serta gizi. Di lain pihak, pengawasan terhadap pelaku usah kurang.
“Kami dari asosiasi sudah berkeliling ke perusahaan-perusahaan integrator untuk mengetahui produksi DOC, nyatanya produksinya tinggi tetapi yang dilaporkan ke tim analisis jauh lebih sedikit,” papar dia. Dalam kesempatan itu juga mencuat pernyataan sikap peternak ayam broiler di Jawa Tengah, salah satunya menuntut agar harga bisa naik mendekati HPP sekalipun bertahap. Di sisi lain, suplai produk di Jawa Tengah juga harus dibatasi, minimal dikurangi hingga 30 persen agar harga naik. Peternak juga meminta agar impor bibit dari luar negeri atau grand parent stock ditutup.
Pemerintah juga diminta tegas dan memberikan sanksi pada pemangku kepentingan yang menyimpang, bahkan jika perlu dipidanakan. Terkait ini, KPPU juga diminta melakukan pengawasan secara efektif. Jika hal tersebut tidak segera direalisasi, para peternak akan bersiap melakukan aksi dan mengadu ke presiden. Sementara itu, Dirjen Peternakan Kementan, I Ketut Diarmita,
membenarkan saat ini harga ayam memang turun. Salah satunya dikarenakan musiman, turunnya permintaan selama bulan sapar. Meski
demikian Ketut menegaskan pihaknya akan mencari solusi terbaik untuk peternak mandiri maupun integrator.
Ketut menyatakan akan mengambil sikap bersama agar peternak bisa lebih terlindungi. Diakuinya, regulasi kebijakan saat ini sudah banyak, namun persoalannya ada yang loyal menjalankan dan ada yang tidak. Terkait ini pihaknya akan mengambil sikap tegas.
“Karena itu hari ini kami temukan peternak dan kami undang tujuh integrator untuk mencari solusi terbaik dan harus putus hari ini
juga,” tegas dia. (ARB)

Kategori

Informasi Terbaru

Video Terbaru


Back to Top