Boyolali Nyaman Dikunjungi, Nyaman Ditinggali dan Nyaman untuk Everybody

Boyolali Nyaman Dikunjungi, Nyaman Ditinggali dan Nyaman untuk Everybody
Posted in Artikel, Informasi
Posted on: November 10th, 2016 Oleh Administrator

Sejarah Boyolali, menurut catatan Babad Tanah Jawa, dahulu merupakan tanah kekuasaan Kerajaan Mataram. Saat itu, Boyolali hanyalah hutan belantara, belum banyak penduduk tinggal di sana. Boyolali merupakan daerah strategis, wilayah pelintasan dari pesisir utara menuju ke selatan. Jadi, ketika ada musuh yang datang menyerang dari utara mau masuk ke wilayah Mataram, bisa dipantau, bahkan dicegat di Boyolali. SEDANGKAN asal muasal kata Boyolali diyakini diberikan oleh Ki Pandan Arang, tokoh pendiri kota Semarang. Beliau berasal dari Tembayat, sebuah
desa di Klaten. Dahulu, Ki Pandan Arang sedang melakukan perjalanan bersama anak istri ke selatan, beliau jalan terlalu cepat sehingga anak istrinya tertinggal jauh di belakang.Akhirnya, beliau memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu istri dan anaknya. Beliau rehat di Kali Pepe, sambil berucap, ”Baya wis lali wong iki”, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah, “apakah sudah lupa orangorang  ini?” Setelah anak istrinya yang ditunggu sudah datang, kata tersebut diucapkan lagi didepan anak istrinya. Sehingga akhirnya daerah itu dinamai Boyolali. Namun, kata Boyolali banyak disalah-maknakan menjadi “bajul kesupen” atau “buaya yang lupa”. Orang awam mengira Boyolali terdiri dari dua kata yakni “boyo” dan “lali”. Kalau digabung artinya buaya lupa.

Padahal arti yang sebenarnya tidak demikian. Luas wilayah administratif Kabupaten Boyolali 1.015,10 km2, terbagi menjadi 19 kecamatan dan memiliki 264 kelurahan. Kabupaten Boyolali, kini dipimpin oleh Seno Samodro, untuk menjabat yang kedua kalinya sejak 2010. ‘Saya hanya berharap, warga Boyolali tetap adem tentrem loh jinawi, nikmati hasil pertanian dan perkebunan, dan tidak perlu bermimpi menjadi warga kota seperti Solo atau Jogyakarta,” kata Seno Samodro. Ciri khas warga Boyolali, tidak militan, dan tidak bermimpi menjadi warga sekelas kota metropolis. Mereka, hanya berharap menjadi kelas satu di kotanya. ‘Saya ingin mereka tetap menjadi warga toleransi dan nyaman sebagai warga kelas satu di kotanya sendiri,” tambah Seno.

Kategori

Informasi Terbaru

Video Terbaru


Back to Top