ATASI KELANGKAAN GAS ELPIJI 3 Kg, PERTAMINA GELAR OPERASI PASAR

ATASI KELANGKAAN GAS ELPIJI 3 Kg, PERTAMINA GELAR OPERASI PASAR
Posted in Informasi
Posted on: August 17th, 2017 Oleh Administrator
BOYOLALI : Menyusul kelangkaan gas elpiji 3 kg di sejumlah wilayah di Boyolali, PT Pertamina melakukan operasi pasar di belasan titik kecamatan di Boyolali, Rabu (16/8). Masing-masing titik didrop 1.120 tabung gas, yang dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 15.500/tabung.
Operasi pasar salah satunya digelar di wilayah Desa Salakan, Kecamatan Teras. Masyarakat yang sudah sejak beberapa pekan terakhir kesulitan mendapatkan gas elpiji, segera saja datang ke balaidesa setempat untuk antre membeli elpiji.
Hanya saja mereka dibatasi pembelian maksimal dua tabung gas. Untuk membeli tabung gas elpiji tersebut, masyarakat harus menunjukkan KTP mereka, guna memastikan mereka warga Salakan.
Kelangkaan gas elpiji 3 kg tersebut dibenarkan oleh Kades Salakan, Daru Tri Laksono. Menurut Daru, harga gas elpiji 3 kg di pasaran mencapai Rp 17.000-20.000/tabung.
“Namun belakangan ini memang langka,” terang dia.
Pihaknya menyambut baik dengan digelarnya operasi pasar tabung gas elpiji tersebut. Hanya saja diakuinya, warga banyak menemui kendala lantaran rata-rata mereka hanya memiliki satu tabung gas yang masih terpasang di kompor. Meski demikian, dengan adanya operasi pasar oleh Pertamina ini, dirasa sangat membantu masyarakat.
Sementara menurut salah satu petugas, Indah Wahyu, dari agen PT. Serumpun Padi Boyolali, pembelian untuk masyarakat di luar Salakan tetap dilayani. Hanya saja pembelian dilakukan setelah seluruh warga Salakan selesai dilayani. Hal yang sama juga diperuntukkan bagi pedagang toko kelontong.
“Untuk pedagang kelontong dibatasi maksimal lima tabung, tetapi setelah semua warga di titik operasi pasar terlayani,” terang dia.

Communication and Relations Officer PT Pertamina Jawa Bagian Tengah, Muslim Darmawan, di sela operasi pasar di Desa Salakan, Kecamatan Sawit, mengungkapkan total sebanyak 14 titik yang dilakukan operasi pasar di Boyolali. 
Muslim menjelaskan, kelangkaan terjadi bukan karena adanya pengurangan kuota, melainkan karena meningkatnya konsumsi elpiji 3 kg di luar kebutuhan rumah tangga di beberapa wilayah termasuk di Boyolali. Padahal, semestinya elpiji bersubsidi hanya diperuntukkan bagi warga miskin untuk kebutuhan rumah tangga saja.
“Pengurangan kuota tidak ada, hanya saja konsumsinya meningkat terutama di luar kebutuhan rumah tangga seperti untuk bahan bakar alat-alat pertanian, peternakan, dan sebagainya. Padahal itu bukan peruntukkannya,” jelas dia. (AR)

Kategori

Informasi Terbaru

Video Terbaru


Back to Top